Menu Navigasi

Friday, 9 November 2018

Mulainya Hijrahku


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tentang semua yang telah terjadi tak lepas dari kehendak-Nya, semua sudah sesui skenario nya, semua sudah dalam porsi nya.
Yap, kali ini ana ingin sedikit curhat diri dalam tulisan yang tak seberapa ini, di mana ana mendapat hidayah yg Masya’Allah membuat ana lebih baik dan merasa lebih dekat lagi Dengan Allah Azza Wa Zalla.

Semua berjalan ketika masih dalam hubungan pacaran, ketika ana masih tak memperdulikan kata “pacaran itu haram”, pacaran itu maksiat” dan semua yg sebelum nya tak ana hirau kan. Hingga pada akhir nya ana menyadari semua ini salah, Masya’Allahu Rabbi, meski ana tlah jatuh lama kedalam kemaksiatan, Allah terus menyayangi dengan membuka mata dan hati ini untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Di mulai ketika ana ada somethin problem dengan nya, seminggu lebih ana tak menggubris chat dari nya, dalam waktu itu ana bertanya dalam hati kenapa ia begini, kenapa ia begitu. Lalu mulai berfikir sebenarnya apa yang ana dapat dari status pacaran ini?.
Ana mulai mencari jawaban dan ntah kenapa begitu mudah nya beberapa akhwat mendekat dan ntah mengapa pula mereka begitu perhatiannya terhadap ana.
Hingga ada seorang akhwat yg begitu terlihat islami membuka hati dan ntah mengapa pula ia mengerti apa yg ana rasakan dan ana butuh kan.
Kita mulai begitu dekat dan ana mulai merasa nyaman dalam jangka waktu seminggu kedekatan itu.

Tapi ana tak ingin jatuh lagi dalam masalah percintaan yang salah, ana mulai meng istikharah kan ia, 4 hari ana istikharah meminta Allah memberi petunjuk apa kah ia jodoh ana atau bukan, meminta ana bisa tau ia sepeti apa lebih dalam lagi, dan Subhanallah Allah menunjukan petunjuknya, setiap kali tanpa sadar mencari tau tentang nya, ya begitu lah ana tau seperti apa orang nya, jawaban yg Allah beri membuat ana makin merasa dilema.

Tapi Di situ lah Allah mengetuk pintu hati ini untuk kembali ke pada syariat nya, begitu terasa dekatnya ketika di sepertiga malam ana ungkapkan seluruh keluh kesah, mohon ampunan pada nya ingin kembali pada Ridho nya, cucuran air mata penyesalan dan ungkapan mohon ampun terus ku sebut dalam akhir sujud ku.

Hingga saat ini ana mulai memperdalam ilmu Agama dan lebih memantaskan diri lagi, semua ana lakukan untuk mengejar ridho nya.

Dan masalah hati, ana serahkan semua pada kuasanya, hingga saat ini ana meng istikharah ia yang sebelum nya menjadi pacar ana. Mudah-mudahan di beri jawaban untuk tau yg terbaik karna Insya’Allah ana sudah punya niatan menyempurnakan ibadah ana dengan pernikahan.

Jika jodoh dekatkan, jika bukan jauh kan

Insya’Allah, Perjalanan hijrah ini akan membawa kebaikan

Sebenernya masih ingin bercerita di sini tapi karna waktu sudah mulai mendekati Adzan subuh, lain kali ana akan lanjutkan ke tema “Keluh Kesah Perjuangan Di Awal Hijrah”, Insya’Allah jika masih di beri umur ana akan menulis lagi.
:)

Sunday, 17 June 2018

Rasa Senang dan Rasa Iri


Sebenernya bingung mau mulai dari mana atau apa yang sebenernya mau ku bahas. Tapi pada intinya ini hanya sebuah ungkapan isi hati yang setiap saat sedikit demi sedikit merenggut kepercayaan diri.
Masih pada masalah yang sama, sebuah jati diri yang hingga sampai saat ini belum ku temukan. Inti nya situasi dan keadaan yang menekan ku seakan ia terus mendorong ku hingga bibir jurang yang dalam.
Terkesampingkan dari hal itu, ada hal baru yang sebenarnya buat hati ku senang, tapi juga buat hati ku sedih. Hal itu tentang dua perempuan yang pernah singgah di hati ini. Yap mungkin sudah lama ku tak memikirkan mereka, tapi akhir-akhir ini karna baru saja lebaran, dan banyak sekali undangan yang datang ke rumah, ntah mengapa ada pertanyaan, bagaimana kabar mereka?, apa sudah jauh lebih bahagia kah atau masih sendiri, hingga ku stalking akun mereka dengan second account.
Kembali lagi, hal yang buat ku bahagia ialah ku lihat mereka bahagia dengan pasangan mereka masing-masing, yap yang satu sudah tunangan karna ku lihat cincin di jari manis nya dalam sebuah photo dengan seorang pria yang ku yakin akan menjadi pembimbing yang baik bagi dirinya. Satu nya lagi ku lihat selalu update tentang kebersamaan mereka, ku bahagia akan hal itu dan berharap semoga cepat beranjak ke jenjang yang lebih serius lagi.
Akan tetapi, dari rasa bahagia ini, terselip rasa sedih dalam hati. Sebenernya bukan sedih karna melihat mereka sudah punya seseorang yang akan menjadi pendamping, tetapi rasa “iri” yang membuat ku bertanya, mereka sudah bahagia dengan pasangan nya, yang satu bahkan tak akan lama lagi akan menikah, dan mengapa aku yang sudah punya seseorang yang sempurna tapi masih saja belum bisa mengajak ke tahap yang lebih serius.
Rasa iri ini bertambah karena keponakan ku yang akan menikah tanggal 23 bulan ini. Yahh ntah lah tapi ku tutupi rasa iri ini. ku berharap mereka akan bahagia dengan pasangan masing masing, khusus nya buat keponakan ku yang akan menikah seminggu lagi.
Untuk ku? Semoga cepat menemukan jati diri.




Thursday, 26 April 2018

Aku Tak Bisa



Apa yang kau lakukan jika kau sedang stress?
Apa yang kau lakukan jika kau sedang depresi?
Apa yang kau lakukan jika kau sedang sedih?
Apa kau akan memendam semua beban itu?
Apa kau akan menutup semua masalah itu?
Atau, justru kau akan ceritakan semua keluh kesah mu ke seseorang yang dekat dengan mu? ceritakan ke seseorang yang kau percayai?
Ntah lah mungkin kalian lebih memilih cerita di banding memendam.
Yang ku tau, ceritakan semua beban hidup mu hanya akan memperburuk keadaan mu, ku pikir.
Mungkin masih bisa di maklumi jika masalah yang ada yang kau ceritakan tentang umum/ selain pribadimu.
Tentang keadaan ku. Beberapa orang memintaku untuk ceritakan masalahku, tapi aku menolak dengan dalih tak ingin menambah beban mu. Di sisi lain aku memang tak mau cerita karna banyak sebab yang ntah bagaimana semua itu ku yakin pasti terjadi.
Jujur saja. Aku merasa seperti tak bisa terbuka tentang masalah pribadi dan depresiku, karna pasti mereka pikir aku hanya ingin perhatian.


Friday, 29 December 2017

Terhenti atau Melangkah?



Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki jati diri?
Masih adakah kesempatan untuk menghapus rasa benci?
Masih adakah kesempatan untuk merubah situasi?
Masih adakah kesempatan untuk menghilangkan stress dan depresi?
Terkadang hati kecil ingin terus melangkah maju. Tapi, semua seakan tertahan karna ketidak mampuanku bersosial.
Aku tak mengerti kenapa aku punya rasa takut terhadap keramaian. Terkadang aku sangat terganggu saat berada di sekitar orang-orang.
Yang ada di pikiran ku hanya ingin sendiri,Tapi aku sangat benci akan kesepian.
Semua membuatku merasa serba salah.
Aku tak tau harus berbuat apa.
Apa aku harus berhenti atau terus melanjutkan hidup dengan gangguan jiwa seperti ini.
Terkadang pikiran ingin mengakhiri hidup selalu terlintas.
Ntah lah apa jadi nya kedepan.
Untuk cerita pun tiada guna lagi.
Putus asa
Ingin mengakhiri semua
Tapi ku tak bisa tinggalkan dunia
Apa aku akan gila?
Ntah lah. Terhenti atau melangkah aku ikuti saja baik buruk jalan yang akan membawaku ntah kemana. Jurang atau angkasa aku tak akan peduli lagi.
Persetan dengan dunia

Tuesday, 5 September 2017

Tutup Mulut Mu!!

Cuma bingung gimana cara ngobatin mental yang udah rusak karna masa lalu.
Hingga saat ini aku masih saja belum bisa mengatasi semua permasalahan yang ada. Yang ku rasa hanya dendam dan emosi yang terus menakuti pikiran ku.
Ya Allah, Tolong hamba yang masih saja sering berbuat dosa.
Kini tak ada seorang pun yang bisa ku andalkan, semua situasi seperti menyudutkan ku, aku hanya makin terpuruk dalam keadaan yang sungguh membebani pikiran.
Aku hanya semakin tertutup.
Aku hanya membuat rasa dendam semakin besar.
Aku hanya semakin membuat emosi tak terkandali.
Aku hanya semakin lemah dalam ketakutan.
Aku hanya semakin jatuh saat dalam kepanikan.
Banyak alasan yang membuat ku semakin terpuruk. Apa bisa kalian sedikit mengerti tanpa harus bicara se enak nya tentang keadaan seseorang?
Apa semua hal yang ada, harus ku selesaikan sendiri?
Aku harus bagaimana?
Satu yang ku mengerti. Pada akhirnya hanya diri sendiri yang bisa mengerati
Sempat ingin akhiri sudah semuanya, tapi untuk bertahan pun aku tak sanggup.

Setengah gila dalam keadaan setengah normal.

Sunday, 4 June 2017

Berubah

Banyak hal telah berubah.
Dia, mereka, kita bahkan aku mengalami fase dimana kepribadian akan berubah seiring berjalannya waktu.
Dulu, aku pernah berfikir kalau sebuah kepribadian tidak akan berubah. Tapi nyatanya salah. Aku mulai memahami apa itu rasa sakit, rasa perih yang tak terlihat oleh mata.
Bahkan aku baru menyadari kalau aku tlah berubah. Baik mental, sikap, dan tingkah laku ku ini tlah berubah setelah tekanan trus menekan batin ku.
Aku tak pernah berfikir untuk mencari cara untuk memperbaikinya, yang ada hanya sepi yang selalu menemani keterpurukan ku. Aku kadang berfikir ingin menyudahi semuanya dengan mengakhiri hidup, tapi selalu ada hal yang menahan ku meskipun itu bukan seseorang yang berpengaruh, atau yang selalu ada.
Tapi tekanan ini seakan terus mendorongku ke jurang dimana batas titik lemahku sudah mulai tak lagi bisa menahannya.
Aku merasa berada disebuah ruangan tanpa cahaya. Tak ada satupun titik cahaya yang bisa ku lihat, tak ada yang bisa ku pegang,  tak ada yang bisa ku tuju.
Ntah apa dan siapa yang akan membukakan celah untuk cahaya bisa menuntunku keluar dari semua ini.
Namun, nampaknya tak ada seorangpun.
Lalu yang akan ku lakukan....
Lihat saja nanti

:’

Sunday, 16 April 2017

Luapan Isi Hati

Seperti mustahil untuk bangkit
Sekarang aku benar-benar terjebak dalam keputusan asa an.
Apa yang harus ku perbuat?
Terkadang ingin melakukan hal-hal yang bodoh. Yang benar saja, akal sehat ku masih bekerja. Tapi dalam keadaan ini aku benar-benar sudah terjebak dalam ruang lingkup keputus asaan. Sudah terlambat untuk mengembalikan rasa percaya diriku.
Yang ku rasa saat ini hanya perasaan dendam dan benci kepada semua orang. Tapi aku tak bisa meluapkannya atau memperlihatkan semua itu. Hanya berpura-pura baik-baik saja seakan tak ada yang terjadi.
Disini, di kamar kecil ku ini, bahkan orang terdekat ku pun tak pernah tau apa yang ku lakukan, apa yanng ku perbuat disini. Tak  pernah tau keadaan dan situasi ku bagaimana.
Ingin aku bercerita,tapi rasa nya itu  tak mungkin, tak ada orang yang bisa ku percaya. Ooppsss mungkin lebih tepatnya tak ada yang akan mengerti. Meskipun ada seseorang yang selalu ada, kurasa akupun tak mungkin bercerita,  hanya akan menambah beban dia saja.
Sebenarnya  aku tak tau apa yang ku ungkapkan saat ini, hanya saja semua isi hati ku tuangkan disini, di tempat yang hanya orang tertentu atau orang yanng nyasar ke Blog ini yang akan tau keluh kesah ku.
Tentang hal untuk meluapkan semua isi hati, seseorang pernah berkata kepadaku, “guru ku pernah bilang, jika keadaan mu sedang kacau, jika tak bisa bercerita atau tak bisa kau ungkapkan pada orang lain, menulislah. setidaknya semua emosi dan isi hatimu bisa terluapkan”. Kupikir itu benar,  di saat tak ada orang yang bisa ku percaya, mungkin dengan cara ini ku bisa ungkapkan, ku bisa berbicara walau hanya lewat jemari kasarku ini.

Dengan ini, setidaknya ada yang mendengarkan atau mengetahui isi hati walau hanya selembar kertas digital saja.